Ilmu dan Teknologi Pangan IPB, Jurusan Tercinta 

“MAU LANJUT KE MANA SETELAH LULUS SMA?”

Pertanyaan di atas sepertinya banyak ditanyakan kepada siswa/siswi SMA, khususnya pada mereka yang berada di tingkat akhir alias sudah mau tamat. Dan umumnya orang akan menjawab seyakin-yakinnya, “Mau ngambil kedokteran nih”, atau mungkin “Kayaknya lanjut ke Teknik Kimia”, beberapa memilih jurusan Ekonomi, Manajemen, Psikologi dan lain sebagainya.

Senang sekali melihat teman-teman yang sudah tahu pasti apa yang mereka inginkan, dan sudah bisa menentukan pilihan yang akan diambil setelah tamat SMA. Sayangnya waktu itu saya termasuk orang yang belum tahu mau ke mana dan mau ngapain setelah tamat  hehehe. Saya sering bertanya dan meminta informasi tentang pilihan jurusan di berbagai universitas. Tapi semakin banyak saya bertanya, semakin banyak informasi, semakin banyak pilihan, ujung-ujungnya jadi semakin bingung 😀

Akhirnya saya berkonsultasi ke guru tersayang. Saya ditanyai berbagai macam hal, bahkan rasanya seperti diinterogasi. Minat kamu apa? Bakat? Pelajaran favorit? Dengan jujur saya cerita ke ibu itu kalau saya suka bisnis manajemen, tapi tidak terlalu berminat untuk mengambil jurusan tersebut di S1. Saya juga bilang kalau (pada waktu itu) saya sangat suka biologi dan muak dengan fisika, apalagi matematika. Dengan polosnya saya bahkan memberi tahu si Ibu kalau sebenernya saya suka labil, jadi intinya percuma juga kalau nanyain saya tentang pelajaran favorit. Toh jawaban bisa berubah-ubah seiring dengan berjalannya waktu serta perubahan suasana hati, juga situasi dan kondisi. (Terbukti, karena kenyataannya saat ini saya jadi sangat suka fisika dan menganggap biologi itu tidak terlalu menarik. Mungkin efek dari Mikrobiologi Dasar, di mana semua yang Anda baca atau pelajari bersifat kasat mata).

Setelah melewati sesi interogasi, si Ibu pun menyodori beberapa brosur pilihan jurusan yang berkaitan dengan biologi, di antaranya adalah Biokimia serta Ilmu dan Teknologi Pangan (ITP) IPB. Dan saya pun bertanya-tanya dalam hati. Ya, saya tahu IPB itu Institut Pertanian Bogor, tapi saya tidak begitu familiar dengan Biokimia, apalagi ITP. Setelah brosur dan silabus mata kuliahnya dilihat-lihat, malah jadi makin penasaran.

Keluar dari ruang konseling, saya langsung cabut ke kelas, googling tentang kedua jurusan ini. Tapi rasanya waktu itu info yang saya dapat hanya info umum yang standar saja. Fortunately, keesokan harinya saya ketemu sama kakak kelas yang ternyata lebih mengenal IPB, dan tentunya punya informasi lebih banyak tentang kedua jurusan misterius ini. Pembicaraan dengan kakak kelas ini, sebut saja ‘A’, ternyata membuat saya memutuskan untuk mendaftar USMI dan memilih Ilmu dan Teknologi Pangan pada pilihan pertama, Biokimia pada pilihan kedua. Ada satu kalimat dari kakak ‘A’ yang membuat saya semakin berminat pada ITP, “Kebanyakan lulusan ITP gaji awalnya aja gede lho” hahaha (Dasar bocah, denger gaji gede langsung minat. Padahal kuliah di mana saja dan kerja apa saja juga bisa menghasilkan banyak uang asalkan benar-benar berusaha haha. Jangan dicontoh ya!)

Di hari-hari berikutnya, saya semakin rajin mencari informasi tentang pangan.  Ternyata kalau dipikir-pikir, pangan itu memang sangat penting, dibutuhkan semua orang, dan merupakan akar dari segalanya. Hampir semua orang tahu pepatah “we are what we eat”. Saya sangat meyakini kebenaran pepatah sederhana tersebut. Kualitas manusia memang dipengaruhi banyak hal, seperti lingkungan, pendidikan dan sebagainya. Tapi, satu hal yang pasti, orang yang sehat dan bergizi baik pasti akan lebih produktif daripada mereka yang kekurangan gizi. Dan gizi yang baik hanya akan diperoleh dari asupan makanan yang baik. Siapa pun Anda, apapun jabatan dan profesi Anda, jelas Anda tidak akan memiliki hidup yang berkualitas tanpa adanya asupan makanan yang baik dan mencukupi kebutuhan tubuh. Fakta tentang betapa pentingnya pangan dalam kehidupan semua orang membuat saya semakin tertarik untuk mempelajari ilmu yang berkaitan dengan pangan.

Alasan lain yang semakin mendorong saya jatuh hati dengan ITP adalah karena saya sangat mencintai cokelat sejak zaman dahulu kala. Mungkin alasan ini agak aneh, bahkan mungkin terlihat bodoh. Tapi, kenapa tidak? Toh Indonesia merupakan pengekspor cokelat terbesar ke-tiga di dunia. Artinya si cokelat ini punya potensi besar untuk dikembangkan hehe. Apalagi hingga saat ini mayoritas cokelat dari Indonesia masih diekspor dalam bentuk raw material alias tanpa/minim pengolahan. Kuantitas yang berlimpah tidak diiringi dengan kualitas yang memadai membuat harga cokelat Indonesia jatuh di pasar internasional, sungguh amat disayangkan. Padahal kalau kualitas cokelat Indonesia ditingkatkan atau diolah lebih lanjut, pasti bisa meningkatkan sumbangan devisa negara.

Pandangan umum tentang pangan, kecintaan terhadap cokelat, dan sekian alasan lainnya membuat saya tertarik terhadap ITP. Kini, setelah diterima di IPB dan berkenalan lebih dekat dengan pangan, sepertinya ketertarikan saya terhadap dunia pangan semakin meningkat 😀

Yaah, meskipun standar kompetensi mata kuliah yang harus dikuasai agak memberatkan jiwa dan pikiran. Tapi yasudahlah, toh siapa pun juga ga akan sampai ke puncak tanpa memanjat terlebih dulu (kecuali kalo naik helikopter atau baling-baling bambu). Susah-susah dulu, semoga bisa senang kemudian. Cintai pangan, beri kontribusi nyata! :)

Posted in Uncategorized | Leave a comment